Tampilkan postingan dengan label PHLEBOTOMY. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label PHLEBOTOMY. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 19 Januari 2013

VENIPUNCTURE II


Pembahasan :

1. Pembendungan yang terlalu lama akan mempengaruhi hasil pemeriksaan karena akan terjadi hemokonsentrasi.

2. Vena yang dapat ditusuk yaitu: pada orang dewasa adalah vena fossa cubiti, pada bayi vene juguralis superfialis atau sinus sagitalis superior.

3. Penusukkan harus tepat pada vena agar tidak menimbul hematum.

4. Pengisapan darah yang terlalu dalam akan menyebabkan darah membeku dalam spuit, segera pisahkan darah ke dalam tabung sesuai dengan jenis pemeriksaan.

PENGAMBILAN DARAH VENA
Pada pengambilan darah vena (venipuncture), contoh darah umumnya diambil dari vena median cubital, pada anterior lengan (sisi dalam lipatan siku). Vena ini terletak dekat dengan permukaan kulit, cukup besar, dan tidak ada pasokan saraf besar. Apabila tidak memungkinkan, vena chepalica atau vena basilica bisa menjadi pilihan berikutnya. Venipuncture pada vena basilica harus dilakukan dengan hati-hati karena letaknya berdekatan dengan arteri brachialis dan syaraf median.

Jika vena cephalica dan basilica ternyata tidak bisa digunakan, maka pengambilan darah dapat dilakukan di vena di daerah pergelangan tangan. Lakukan pengambilan dengan dengan sangat hati-hati dan menggunakan jarum yang ukurannya lebih kecil.

Lokasi yang tidak diperbolehkan diambil darah adalah :
  • Lengan pada sisi mastectomy
  • Daerah edema
  • Hematoma
  • Daerah dimana darah sedang ditransfusikan
  • Daerah bekas luka
  • Daerah dengan cannula, fistula atau cangkokan vascular
  • Daerah intra-vena lines Pengambilan darah di daerah ini dapat menyebabkan darah menjadi lebih encer dan dapat meningkatkan atau menurunkan kadar zat tertentu.
Ada dua cara dalam pengambilan darah vena, yaitu cara manual dan cara vakum. Cara manual dilakukan dengan menggunakan alat suntik (syring), sedangkan cara vakum dengan menggunakan tabung vakum (vacutainer).

Beberapa hal penting yang harus diperhatikan dalam pengambilan darah vena adalah :
  • Pemasangan turniket (tali pembendung)
    • pemasangan dalam waktu lama dan terlalu keras dapat menyebabkan hemokonsentrasi (peningkatan nilai hematokrit/PCV dan elemen sel), peningkatan kadar substrat (protein total, AST, besi, kolesterol, lipid total)
    • melepas turniket sesudah jarum dilepas dapat menyebabkan hematoma
  • Jarum dilepaskan sebelum tabung vakum terisi penuh sehingga mengakibatkan masukknya udara ke dalam tabung dan merusak sel darah merah.
  • Penusukan
    • penusukan yang tidak sekali kena menyebabkan masuknya cairan jaringan sehingga dapat mengaktifkan pembekuan. Di samping itu, penusukan yang berkali-kali juga berpotensi menyebabkan hematoma.
    • tutukan jarum yang tidak tepat benar masuk ke dalam vena menyebabkan darah bocor dengan akibat hematoma
  • Kulit yang ditusuk masih basah oleh alkohol menyebabkan hemolisis sampel akibat kontaminasi oleh alcohol, rasa terbakar dan rasa nyeri yang berlebihan pada pasien ketika dilakukan penusukan.

VENIPUNCTURE METODE VACUM TUBE


Tabung vakum pertama kali dipasarkan oleh perusahaan AS BD (Becton-Dickinson) di bawah nama dagang Vacutainer. Jenis tabung ini berupa tabung reaksi yang hampa udara, terbuat dari kaca atau plastik. Ketika tabung dilekatkan pada jarum, darah akan mengalir masuk ke dalam tabung dan berhenti mengalir ketika sejumlah volume tertentu telah tercapai.
Jarum yang digunakan terdiri dari dua buah jarum yang dihubungkan oleh sambungan berulir. Jarum pada sisi anterior digunakan untuk menusuk vena dan jarum pada sisi posterior ditancapkan pada tabung. Jarum posterior diselubungi oleh bahan dari karet sehingga dapat mencegah darah dari pasien mengalir keluar. Sambungan berulir berfungsi untuk melekatkan jarum pada sebuah holder dan memudahkan pada saat mendorong tabung menancap pada jarum posterior.
Keuntungan menggunakan metode pengambilan ini adalah, tak perlu membagi-bagi sampel darah ke dalam beberapa tabung. Cukup sekali penusukan, dapat digunakan untuk beberapa tabung secara bergantian sesuai dengan jenis tes yang diperlukan. Untuk keperluan tes biakan kuman, cara ini juga lebih bagus karena darah pasien langsung dapat mengalir masuk ke dalam tabung yang berisi media biakan kuman. Jadi, kemungkinan kontaminasi selama pemindahan sampel pada pengambilan dengan cara manual dapat dihindari.
Kekurangannya sulitnya pengambilan pada orang tua, anak kecil, bayi, atau jika vena tidak bisa diandalkan (kecil, rapuh), atau jika pasien gemuk. Untuk mengatasi hal ini mungkin bisa digunakan jarum bersayap (winged needle).
Jarum bersayap atau sering juga dinamakan jarum “kupu-kupu” hampir sama dengan jarum vakutainer seperti yang disebutkan di atas. Perbedaannya adalah, antara jarum anterior dan posterior terdapat dua buah sayap plastik pada pangkal jarum anterior dan selang yang menghubungkan jarum anterior dan posterior. Jika penusukan tepat mengenai vena, darah akan kelihatan masuk pada selang (
flash).
Prosedur :
·         Persiapkan alat-alat yang diperlukan : jarum, kapas alkohol 70%, tali pembendung (turniket), plester, tabung vakum.
·         Pasang jarum pada holder, pastikan terpasang erat.
·         Lakukan pendekatan pasien dengan tenang dan ramah; usahakan pasien senyaman mungkin.
·         Identifikasi pasien dengan benar sesuai dengan data di lembar permintaan.
·         Verifikasi keadaan pasien, misalnya puasa atau konsumsi obat. Catat bila pasien minum obat tertentu, tidak puasa dsb.
·         Minta pasien meluruskan lengannya, pilih lengan yang banyak melakukan aktifitas.
·         Minta pasien mengepalkan tangan.
·         Pasang tali pembendung (turniket) kira-kira 10 cm di atas lipat siku.
·         Pilih bagian vena median cubital atau cephalic. Lakukan perabaan (palpasi) untuk memastikan posisi vena; vena teraba seperti sebuah pipa kecil, elastis dan memiliki dinding tebal. Jika vena tidak teraba, lakukan pengurutan dari arah pergelangan ke siku, atau kompres hangat selama 5 menit daerah lengan.
·         Bersihkan kulit pada bagian yang akan diambil dengan kapas alcohol 70% dan biarkan kering. Kulit yang sudah dibersihkan jangan dipegang lagi.
·         Tusuk bagian vena dengan posisi lubang jarum menghadap ke atas. Masukkan tabung ke dalam holder dan dorong sehingga jarum bagian posterior tertancap pada tabung, maka darah akan mengalir masuk ke dalam tabung. Tunggu sampai darah berhenti mengalir. Jika memerlukan beberapa tabung, setelah tabung pertama terisi, cabut dan ganti dengan tabung kedua, begitu seterusnya.
·         Lepas turniket dan minta pasien membuka kepalan tangannya. Volume darah yang diambil kira-kira 3 kali jumlah serum atau plasma yang diperlukan untuk pemeriksaan.
·         Letakkan kapas di tempat suntikan lalu segera lepaskan/tarik jarum. Tekan kapas beberapa sat lalu plester selama kira-kira 15 menit. Jangan menarik jarum sebelum turniket dibuka.

Menampung Darah Dalam Tabung
Beberapa jenis tabung sampel darah yang digunakan dalam praktek laboratorium klinik adalah sebagai berikut :
·         Tabung tutup merah. Tabung ini tanpa penambahan zat additive, darah akan menjadi beku dan serum dipisahkan dengan pemusingan. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah, imunologi, serologi dan bank darah (crossmatching test)
·         Tabung tutup kuning. Tabung ini berisi gel separator (serum separator tube/SST) yang fungsinya memisahkan serum dan sel darah. Setelah pemusingan, serum akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah, imunologi dan serologi
·         Tabung tutup hijau terang. Tabung ini berisi gel separator (plasma separator tube/PST) dengan antikoagulan lithium heparin. Setelah pemusingan, plasma akan berada di bagian atas gel dan sel darah berada di bawah gel. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan kimia darah.
·         Tabung tutup ungu atau lavender. Tabung ini berisi EDTA. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan darah lengkap dan bank darah (crossmatch)
·         Tabung tutup biru. Tabung ini berisi natrium sitrat. Umumnya digunakan untuk pemeriksaan koagulasi (mis. PPT, APTT)
·         Tabung tutup hijau. Tabung ini berisi natrium atau lithium heparin, umumnya digunakan untuk pemeriksaan fragilitas osmotik eritrosit, kimia darah.
·         Tabung tutup biru gelap. Tabung ini berisi EDTA yang bebas logam, umumnya digunakan untuk pemeriksaan trace element (zink, copper, mercury) dan toksikologi.
·         Tabung tutup abu-abu terang. Tabung ini berisi natrium fluoride dan kalium oksalat, digunakan untuk pemeriksaan glukosa.
·         Tabung tutup hitam ; berisi bufer sodium sitrat, digunakan untuk pemeriksaan LED (ESR).
·         Tabung tutup pink ; berisi potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan imunohematologi.
·         Tabung tutup putih ; potassium EDTA, digunakan untuk pemeriksaan molekuler/PCR dan bDNA.
·         Tabung tutup kuning dengan warna hitam di bagian atas ; berisi media biakan, digunakan untuk pemeriksaan mikrobiologi – aerob, anaerob dan jamur
Beberapa hal penting dalam menampung sampel darah adalah :
·         Darah dari syring atau suntikan harus dimasukkan ke dalam tabung dengan cara melepas jarum lalu mengalirkan darah perlahan-lahan melalui dinding tabung. Memasukkan darah dengan cara disemprotkan, apalagi tanpa melepas jarum, berpotensi menyebabkan hemolisis. Memasukkan darah ke dalam tabung vakum dengan cara menusukkan jarum pada tutup tabung, biarkan darah mengalir sampai berhenti sendiri ketika volume telah terpenuhi.
·         Homogenisasi sampel jika menggunakan antikoagulan dengan cara memutar-mutar tabung 4-5 kali atau membolak-balikkan tabung 5-10 kali dengan lembut. Mengocok sampel berpotensi menyebabkan hemolisis.
·         Urutan memasukkan sampel darah ke dalam tabung vakum adalah : pertama – botol biakan (culture) darah atau tabung tutup kuning-hitam kedua – tes koagulasi (tabung tutup biru), ketiga – tabung non additive (tutup merah), keempat – tabung tutup merah atau kuning dengan gel separator atau clot activator, tabung tutup ungu/lavendet (EDTA), tabung tutup hijau (heparin), tabung tutup abu-abu (NaF dan Na oksalat)

Rabu, 10 Oktober 2012

HEELS STICK


1.     DEFINISI

Heels stick adalah suatu teknik pengambilan darah yang mudah digunakan untuk memperoleh sampel darah kapiler untuk berbagai tes laboratorium, terutama bilirubin, screening pada bayi baru lahir dan pemeriksaan kadar glukosa darah. Teknik laboratoriumini hanya memerlukan volume sampel yang lebih kecil kemudian ditemukanlah metode heels stick ini untuk meminimalkan trauma dan rasa sakit, heels stick adalah metode yangbaik untuk memperoleh darah untuk pemeriksaan atau tes darah rutin.


2.      INDIKASI
pengambilan sampel darah metode Heel stick diindikasikan bila :
·         Sampel yang dibutuhkan relatif kecil
·         Sumber lain pengambilan darah (pusat vena kateter, kateter umbilikalis, garis arteri) belum tersedia.misalnya, pada bayi.

Sampel Heels stick dapat digunakan untuk pemeriksaan kimia umum dan tes fungsi hati, jumlah darah lengkap (CBCS), toksikologi, skrining bayi yang baru lahir dan analisis gas darah.

3.     KONTRAINDIKASI
Tidak boleh dilakukan jika ada luka, infeksi, anomali, atau edema pada daerah tumitsampling. Lokasi pengambilan tidak boleh menunjukkan adanya gangguan peredaran, seperti vasokonstriksi (pucat), vasodilatasi (oleh radang, trauma, dsb), kongesti atau sianosis setempat.karna pada terjadi pucat pada sekitar daerah yang akan di ambil sehinggga jika dilakukan pengambilan darah sampel akan terjadi rendah palsu karna o2 yang terkandung rendah
Tes darah yang membutuhkan volume sampel yang relatif besar tidak layak dengan sampel heels stick. Kultur darah memerlukan teknik sempurna, steril dan karenanya, tidak dapat dilakukan dengan sampel yang diperoleh melalui heels stick. Beberapa tes canggih lainnya juga tidak dilakukan pada sampel heels stick (misalnya, analisis kromosom dan imunoglobulin tertentu dan titer).

4.     LOKASI
Untuk  anak  kecil dan bayi diambil di tumit (heelstick) pada 1/3 bagian tepi telapak kaki atau ibu jari kaki.

5.      PROSEDUR
Alat & bahan :
·                     Microtainer



Microtainers tersedia dalam 5 jenis:

    a. Pilih-top microtainers yang tidak mengandung aditif untuk prosedur bank darah atau untuk prosedur yang tidak memerlukan gel pemisah serum.

   b.  Merah-atas microtainers mengandung sejumlah kecil gel pemisah serum untuk memproduksi serum.

   c.  Ungu-atas yang mengandung antikoagulan EDTA microtainers untuk digunakan dalam prosedur hematologi.

  d.   Hijau-atas yang mengandung heparin microtainer dan gel pemisah untuk digunakan dalam prosedur kimia.

   e.  Abu-abu atas microtainer mengandung Na fluoride / K oksalat untuk digunakan dalam prosedur kimia yang spesifik.
 
·                     Sarung tangan
·                     Antiseptik: alcohol 70 % atau povidone-iodine
·                     Handuk hangat
·                     Chuck
·                     Desinfektan
·                     Tempat sampah  "Biohazardous" untuk membuang lanset atau tabung kapiler yang telah digunakan.


Skinpuncture metode heels stick
a.       Kumpulkan peralatan yang diperlukan. 
b.       Cuci tangan dan mengenakan sarung tangan.
c.        Identifikasi pasien.
A. Rawat Inap - nama pasien dan Nomor Rekam Medis pada gelang ID mereka banyak permintaan pemeriksaan atau label komputer.
B. Rawat Jalan – pembuatan  ID awal dengan memanggil nama pasien. Ini harus diverifikasi dengan menanyakan atau konfirmasi dengan orang tua atau wali,tanggal lahir pasien.
d.       Pilih Microtainers sesuai untuk spesimen yang akan dikumpulkan. Setiap Microtainers mengandung aditif berbeda-beda.

e.        Posisi pasien.
Bayi harus dipegang oleh orang dewasa lain jika memungkinkan. Jika perlu lepaskan pakaian bayi dan selimut agar tidak mengganggu. Sebuah penghalang pelindung harus ditempatkan di bawah bayi. Melindungi orang yang memegang bayi dari kontaminasi darah yang mungkin terjadi. Jika tidak ada seseorang yangmemungkinkan untuk membantu, posisikan bayi terlungkup maupun terlentang di tengah meja pemeriksaan.
 CATATAN: untuk bayi sampai usia 6 bulan, tumit biasanya merupakan situs pilihankarena jari-jari bayi terlalu kecil untuk tusukan kulit metode finger stick.
f.        Pilih lokasi tusukan.
Daerah tumit harus berada pada permukaan plantar tumit, di luar batas lateral dan medial berkapur (tulang tumit). Tulang tumit sangat dekat dengan permukaan kulit di bagian belakang tumit, dan dapat rusak oleh tusukan di daerah ini.
g.       Yakinkan pasien. 
h.      Hangatkan daerah tusukan, jika perlu. Gunakan handuk hangat, basah atau chuck untuk menghangatkan lokasi tusukan selama minimal 3 menit. Pemanasan daerahuntuk 420 C dapat meningkatkan aliran darah.
i.         Desinfeksi daerah tusukan. Gunakan alkohol 70% atau povidone-iodine persiapan untuk mengusap area. Biarkan kering. Jika kulit belum kering, darah akan tersebar di wilayah itu yang membuat sulit untuk mengumpulkan dan ada kemungkinan kontaminasi dari agen pembersih.
j.         Buka kemasan perangkat tusuk,hati-hati agar tidak terkontaminasi.
k.      Pengambilan darah Sticks Heel: 
a)      Pegang kaki dengan tegas dan tusuk daerah yang dipilih.
b)      Lepaskan kaki dan biarkan darah menetes pertama terbentuk.
c)      Menghapus darah yang keluar pertama kali dan hindari meremas berlebihan.
d)      Pegang kaki dengan tegas dan kumpulkan darah.
e)       Lepaskan kaki dan biarkan bayi untuk menendang dari waktu ke waktu karena ini akan meningkatkan aliran darah.
f)       Lap daerah yang telah dilakukan penusukan.
g)       Ketika pengambilan spesimen selesai, pegang kain kasa di lokasi tusukan dan Tahan sampai pendarahan berhenti.
h)      Buang perangkat tusukan benda tajam dalam wadah biohazardous.
i)         Segel atau tutup tabung.


l.        Konfirmasikan bahwa pasien benar semua. Konfirmasi perdarahan telah berhenti dan pasien merasa atau terlihat normal.



Keadaan Khusus

Pendarahan berlebihan:

    Terapkan tekanan langsung ke daerah tusukan jika pendarahan berlanjut.

    Jika pendarahan berlanjut lebih dari 5 menit, hubungi dokter.



Penanganan Pertimbangan

Sampel darah kapiler harus diproses sesegera mungkin setelah diambil.
 Tindakan pencegahan umum berikut untuk spesimen kapiler harus diamati:

    Jauhkan Spesimen dari tabung tertutup. Hal ini harus dilakukan untuk alasan keselamatan serta pelestarian spesimen.

    Hindari agitasi spesimen. Hemolisis (pecahnya sel darah merah) akan terjadi ketika pasian gelisah. Sebuah jumlah tertentu hemolisis tidak dapat dihindari, tetapi akan menjadi minimal. Spesimen hemolisa yang buruk tidak dapat diterima untuk prosedur kimia dan hematologi. Hindari specimen agar tidak  terguncang – guncang  dan selalu menggunakan inversi lembut untuk menghomogenkan spesimen. Selalu menangani spesimen dengan hati-hati.

    Patuhi kendala waktu spesimen. Waktu sangat penting dalam prosedur kimia dan hematologi. Kendala waktu pada spesimen kapiler lebih ketat maka mereka pada sampel yang diperoleh oleh venipuncture vena.

    Dinginkan spesimen jika tidak segera diuji. Spesimen darah  kapiler dengan antikoagulan harusdisimpan pada 2-8 ᵒ C. jika specimen tidak ditangani dalam waktu 4 jam. Suhu yang panas dapat menyebabkan hemolisis.

SUMBER KESALAHAN


    Distribusi cairan abnormal yang disebabkan oleh berlebihan meremas.

    Spesimen yang mengandung antikoagulan gumpalan harus dibuang.

    Hemolisis mungkin disebabkan oleh memeras berlebihan atau alkohol masih basah pada saat dilakukan penusukan.
    Serum / Plasma yang telah kontak lama dengan sel-sel akan menghasilkan perubahan dalam glukosa, zat besi, LDH, dan kadar potasium.

A.    KOMPLIKASI
1.      Rasa Nyeri
Rasa nyeri berlangsung tidak lama sehingga tidak memerlukan penanganan khusus. Nyeri bisa timbul alibat alkosol yang belum kering atau akibat penarikan jarum yang terlalu kuat.
Cara pencegahan:
·         Setelah disinfeksi kulit, yakin dulu bahwa alcohol sudah mongering sebelum pengambilan darah dilakukan
·         Penarikan jarum tidak terlalu kuat
·         Penjelasan / Menggambarkan sifat nyeri yang sebenarnya (memberi contoh )
2.      Alergi
Alergi bisa terjadi terhadap bahan- bahan yang dipakai dalamflebotom, misalnya terhadap zat antiseptic/ desinfektan, latex yang adapada sarung tangan, turniket atau plester.Gejala alergi bisa ringan atau berat, berupa kemerahan, rhinitis,radang selaput mata; kadang-kadang bahkan bisa (shock).
Cara mengatasi :
·         Tenangkan pasien, beri penjelasan
·         Panggil dokter atau perawat untuk penanganan selanjutnya
Cara pencegahan :
·         Wawan cara apa ada riwayat allergi.
·         Memakai plester atau sarung-tangan yang tidak mengandung latex.
3.      Trombosis
Terjadi karena pengambilan darah yang berulang kali ditempatyang sama sehingga menimbulkan kerusaka dan peradangan setempatdan berakibat dengan penutupan ( occlusion ) pembuluh darah. Hal ini juga terlihat pada kelompok pengguna obat ( narcotics ) yang memakaipembuluh darah vena.
Cara pencegahan:
·         Hindari pengambilan berulang ditempat yang sama
·         Pembinaan peninap narkotika
4.      Radang Tulang
Penyakit ini sering terjadi pada bayi karena jarak kulit-tulang yangsempit dan pemakaian lanset yang berukuran panjang.
Cara mengatasi :
·         Mengatasi peradangan tulang
Cara Pencegahan :
·         Menggunakan lanset yang ukurannya sesuai.
Saat ini sudah dipasarkan lanset dalam berbagai ukuran disesuaikan dengan kelompok usia. Setiap kejadian komplikasi Phlebotomi harus dilaporkan kepada dokter dan dicatat dalam buku catatan tersendiri dengan mencantumkan identitas pasien selengkapnya, tanggal dan jam kejadian,dan tindakan yang diberikan.
5.      Amnesia
Pada bayi, terutama bayi baru lahir dimana volume darah sedikit, pengambilan darah berulang dapat menyebabkan anemia. Selain itu pengambilan darah kapiler pada bayi terutama yang bertulang dapat menyebabkan selulitis, abses, osteomielitis, jaringan parut dan nodulklasifikasi. Nodul klasifikasi tersebut mula-mula tampak seperti lekukan yang 4-12 bulan kemudian akan menjadi nodul dan menghilang dalam 18-20 bulan.
6.      Komplikasi Neurologis
Komplikasi neurologist dapat bersifat local karena tertusuknya syaraf dilokasi penusukan, dan menimbulkan keluhan nyeri atau kesemutan yang menjalar ke lengan. Walaupun jarang, serangan kejang ( seizures ) dapat pula terjadi.
Cara Penanganan
·         Pasien yang mengalami serangan saat pengambilan darah harusdilindungi dari perlukaan.
·         Hentikan pengambilan darah
·         Baringkan pasien dengan kepala dimiringkan ke satu sisi
·         Bebaskan jalan nafas
·         Usahakan lidah tidak tergigit
·         Hubungi dokter
·         Lakukan penekanan secukupnya di daerah penusukan sambilmembatasi pergerakan pasien.
                                                                                                                      


DAFTAR PUSTAKA